Minyak rem masa kini yang dikenal dengan standar DOT3, DOT4 dan seterusnya, terbuat dari bahan dasar yang menyerap air dan uap air (kelembaban) atau disebut juga bersifat higroskopis. Hal ini menyebabkan kandungan air dalam minyak rem meningkat seiring dengan waktu.

 

 

Pada minyak rem standar DOT3 kandungan air sebanyak 3% dapat terjadi dalam tempo 1 tahun saja dan menyebabkan titik didih turun dari 205° Celcius menjadi hanya 145° Celcius! Artinya minyak rem lebih mudah mendidih. Kita tahu bahwa air memiliki titik didih 100 derajat Celcius. Ini berarti kandungan air dalam minyak rem akan mendidih lebih dahulu dan berubah menjadi uap air yang membentuk gelembung udara.

 

Gelembung udara ini sangat berbahaya karena mengurangi kemampuan minyak rem untuk menyalurkan tekanan yang mendorong kampas rem. Padahal kinerja sistem pengereman sangat bergantung pada kemampuan minyak rem menekan kampas. Bukan saja kita harus menekan pedal lebih kuat dan dalam tapi malah bisa saja kita hanya menginjak angin sementara kampas tidak bekerja. Ini yang kita sebut gejala rem blong.

 

Karena itu sebaiknya kita membiasakan diri menguras minyak rem maksimal satu tahun sekali atau setiap 20.000 Km pada mobil dan 10.000 Km pada motor. Sekaligus membersihkan dan memeriksa kondisi seal, piston dan kaliper rem. Hal yang tidak memakan biaya besar tapi dapat menyelamatkan nyawa kita.