International Sentul Series Of Motorsport (ISSOM) seri ke-4 kali ini diselenggarakan malam hari. Bertajuk ISSOM Night Race (17-18/8)yang bertepatan dengan hari Kemerdekaan ini, beberapa kelas balap Kejurnas turut diperlombakan.

Sepertinya pihak Sentul ingin mengembalikan suasana hiruk-pikuk di malam hari yang dahulu kerap terjadi saat gelaran drag race sedang naik daun di pertengahan tahun 1990-an. Namun karena balap turing ini mengitari sirkuit, tentu memiliki tantangan yang berbeda ketimbang gelaran drag race saat itu.

Apa saja tantangan yang harus dihadapi para pembalap dan mekanik dalam mempersiapkan mobil balapnya? "Pada dasarnya balap malam dan siang tidak memiliki perbedaan berarti dalam hal set-up kendaraan, karena mesin modern telah memiliki sensor yang diatur komputer untuk mengompensasi beragam kondisi. Hal berbeda jika mesin masih mengandalkan karburator, tentu set-up harus disesuaikan karena suhu udara yang lebih dingin," terang Sudiyanto, owners dari Yanto Motor di daerah Pondok Bambu, Jakarta Timur.


Taqwa SS pun selaku punggawa Garden Speed pun mengutarakan hal serupa, bahwa tidak ada set-up berbeda untuk wheel alignment bagi mobil penggerak roda depan (FWD). Tapi untuk penggerak belakang (RWD), bisa saja berbeda lantaran grip ban yang lebih baik saat kondisi trek dingin.

Penerangan menjadi komponen paling krusial. Lantaran sirkuit Sentul yang begitu minim penerangan, otomatis diperlukan pencahayaan optimal dari kendaraan.

Sudiyanto pun menerangkan bahwa regulasi saat ini, penerangan hanya diperbolehkan dari kondisi standar mobil, yakni maksimal 4 lampu yang terdiri dari sepasang headlamp dan foglamp. Namun usulan untuk mengganti bohlam dengan LED sedang dilakukan agar pencahayaan bisa lebih baik dari jenis Halogen.

Begitu pun usulan untuk penambahan penerangan di beberapa sudut tikungan, terutama di R3 dan R4. Hal ini cukup krusial karena sudut tikungan yang mengharuskan mobil perlu sedikit digeser ketika menghadapi dua tikungan tersebut.

Sedangkan di tikungan 'S' kecil akan lebih aman lantaran kecepatan cukup rendah, dan tikungan 'S' besar serta dua tikungan terakhir, masih mendapat pencahayaan dari menara atau tower Sentul.

Tantangan lainnya adalah kabut yang kemungkinan besar bisa turun meski tidak hujan sekalipun, mengingat lokasi Sentul yang dekat dengan kota Bogor. Otomatis pemilihan warna cahaya lampu alias derajat Kelvin, perlu dipertimbangkan, setidaknya angka di bawah 4.000 Kelvin wajib digunakan agar kabut dapat ditembus.

Tak hanya itu, faktor angin pun cukup memberi kontribusi dalam balapan malam. Belum lagi satwa liar seperti biawak akan sering dijumpai ketika malam hari. Artinya, pembalap perlu kesigapan dalam menghadapi segala tantangan ini.

Cukup seru kan Sob?